Cari Blog Ini

Ekstra Shooting Video

DASAR-DASAR SHOOTING VIDEO
Bagian 1
Bab I.  Pendahuluan
 

A.    DESKRIPSI JUDUL
Modul ini berisi tentang bagaimana tata cara Shooting Video (merekam gambar) hingga pada tahap akhir diberikan tambahan tentang membuat film/movie dalam bentuk/format VCD.
Dalam Modul ini terdiri dari 4 (empat)  kegiatan belajar, yaitu :
a.        Mengenal Peralatan untuk keperluan Shooting Video.
b.        Pengetahuan tentang Dasar-dasar Shooting Video.
c.         Mengoperasikan peralatan Shooting Video
d.        Membuat film/movie hasil shooting video

B.    PETUNJUK PELATIHAN
Peserta diklat diharapkan dapat berperan aktif dan berinteraksi dengan sumber belajar yang dapat digunakan, karena itu harus memperhatikan hal-hal sebagai berikut :
a.    Langkah-langkah belajar yang ditempuh :
-      Persiapkan alat dan bahan !
-      Bacalah dengan seksama uraian materi pada setiap kegiatan belajar!
-      Cermatilah langkah langkah kerja pada setiap kegiatan belajar sebelum  mengerjakan, bila belum jelas tanyakan pada instruktur !
-      Kembalikan semua peralatan praktik yang digunakan!
b.    Perlengkapan yang Harus Dipersiapkan
Guna menunjang keselamatan dan kelancaran tugas/ pekerjaan yang harus dilakukan, maka persiapkanlah seluruh perlengkapan yang diperlukan,  pelajarilah terlebih dahulu modul ini dan buku-buku yang menunjang.

C.   MATERI UMUM
Kemajuan teknologi optik dan digital, telah memadukan kecanggihan dibidang perfilman pada saat ini. Kamera foto dan video digital sudah bukan barang aneh dan mahal. Berbagai bentuk dan spesifikasi sudah dapat disesuaikan dengan kemampuan kita untuk memiliki.
Dalam bergai even dan kegiatan, terkadang kita perlu untuk mengabadikan momen-momen penting tersebut.


Ada beberapa Jenis Digital Video Camera yang kita kenal pada saat ini, antara lain :
a.         BETACAM SX
b.         DVCAM
c.         DVCPRO
d.         Mini DV
e.         DV Professional

Pada Digital Video Camera, pembentukan gambar dilakukan dengan diawali melalui proses scanning (penelusuran) layaknya kita membaca, namun mempunyai kecepatan yang sangat tinggi. Hasil pantulan cahaya dari obyek akan diterima oleh lensa kamera yang kemudian di umpankan pada Head Camera yang berisi antara lain CC & ND Filter, C C D & Electronics circuit. Head Camera mempunyai fungsi utama yaitu merubah informasi optic/cahaya yang didapat dari lensa menjadi informasi listrik.

Informasi listrik inilah yang kemudian diproses oleh rangkaian-rangkaian elektronik yang ada pada kamera sesuai dengan jenis kameranya. Hasil dari proses ini kemudian dipergunakan untuk disimpan, dimainkan maupun ditampailkan pada layer monitor.
Pada beberapa Kamera Video sudah ada yang dilengkapi pula dengan perekam suara.

Kamera Video dapat dikategorikan sebagai berikut :
a.       Consumer Video Camera (Home Video Camera)
 










Gambar 1. Home Video Camera

b.       Prosumer Video Camera (semi Proffesional Video Camera)
 










Gambar 2.  Semi Professional Camera

c.       Proffesioanal Video Camera
 







Gambar 3. Professional Camera
 

d.       Broadcasting Video Camera







                      Gambar 4.   Broadcasting Video
                                       Camera
Salah satu karakteristik cahaya adalah Colour Temperatur (suhu temperatur warna yang    terkandung dalam cahaya tersebut) dengan satuan Derajat Kelvin ( K).
Pencahayaan yg digunakan untuk shooting diluar studio/outdoor bisa bervariasi/berbeda Color temperaturnya seiring dengan perputaran bumi.
Standard Color temperatur cahaya untuk Kamera TV adalah : 3000 – 3200  derajat Kelvin.
Diperlukan CC Filter untuk merubah color temperatur cahaya yang masuk ke kamera menjadi mendekati standard 3000 - 32000K.

Dalam menjalankan peralatan-peralatan, yang perlu kita ketahui adalah Standart Operasional Prosedur (SOP) sebagaimana yang dicantumkan pada buku manual.
Demikian juga halnya pada teknik shooting video. Kita harus memahami betul karakter, spesifikasi teknis dari alat yang akan dipergunakan.

Penguasaan dan pemahamam tentang Teknik pergerakan Kamera, pengaturan diagframa kamera, focus kamera dan pencahayaan, akan turut menambah tingkat keberhasilan pengambilan gambar secara maksimal.

Pada proses terakhir adalah mengedit hasil shooting dan kemudian dijadikan sebuah movie.
Banyak aplikasi-aplikasi program Video Editing yang dapat dipergunakan, antara lain :
a.        Windows Movie Marker
b.        Adobe Premier
c.         Ulead Video Studio
d.        Macromedia Director
e.        Power Director
f.          Dll.








BAB II.  PERALATAN SHOOTING VIDEO
 

A.   KAMERA VIDEO DIGITAL.
Kamera Video Digital  adalah perangkat perekam data video yang mampu menyimpan gambar digital dari mode gambar analog. Perangkat ini termasuk salah satu produk teknologi digital, sehingga disebut pula salah satu perangkat digitizer yang memiliki kemampuan mengambil input data analog berupa frekuensi sinar dan mengubah ke mode digital elektronis.
Kamera Video Digital Ringan yang dapt dengan mudah dibawa-bawa umumnya dinamakan Handycam.
Beberapa Handycam, penyimpanan datanya sudah mempergunakan Disc maupun  HardDisc.
Berikut ini adalah bagian-bagian dari  handy kamera digital salah satu produk merk Sony
DCR - HC51E.
 










Gambar 6a









Gambar 6b
1.       Text Box: 11.	Easy Button
12.	Tombol Reset
13.	Layar LCD
14.	Tombol Zoom
15.	Tombol Rec Start/Stop
16.	Speaker
17.	Pembuka Battery
18.	Charge Lampu
19.	USB jack
20.	Tombol LampuNightshot Plus
2.       Power Zoom Lever
3.       Open Eject Lever
4.       Pengait
5.       Sabuk Pemegang
6.       Lensa
7.       Penutup Lensa
8.       Microphone
9.       Lampu Inframerah
10.   Indikator Baterry

 











Gambar 6c.

21.     
26.       DC Input
27.       AV Remote Conector
28.       Camera Play Edit
29.       Tombol Rekam
30.       Trimpot Receptable
 
Tombol Power
22.      Lubang Pembidik
23.      Pelindung Mata
24.      Pengatur Lubang Pembidik
25.      Digital Video Out



B.   KELENGKAPAN PENUNJANG KAMERA VIDEO (ASSOSERIES)
a.  Penyangga Kamera ( Camera Mounting )
     Ada bermacam-macam penyangga kamera yang dikenal, yaitu :

Trimpod
 












Gambar 7. 

JIB
 










Gambar  8.

 









Gambar 9.
 






















Gambar 10  dan gambar  11
RIG CAMERA STABILIZER
 









Gambar 12

b.      Video Recorder
Pada beberapa Kamera Video ada yang tidak dilengkapi dengan alat perekam (Broadcast Video Camera) umumnya tidak dilengkapi.
Justru pada Kamera Video Jinjing telah dilengkapi dengan alat perekam gambar.
Alat perekam gambar menggunakan media pita magnetig, CD/DVD maupun HardDisc.
Alat perekam ini juga dapat digunakan untuk melihat hasil rekaman
 














Gambar 13
c.   Penerangan
Kuat Cahaya (intensitas cahaya) yang dibutuhkan untuk setiap kamera dalam pengambilan gambar/obyek tidak sama (bervariasi). Hal ini bergantung pada spesifikasi teknis kamera itu sendiri.
 Intensitas cahaya (kuat penerangan/cahaya) diukur dalam satuan Lux (Lx) atau satuan Foot-candle (ft-cd), alat ukurnya disebut Lux meter/Light meter. 1 Lx = 10,76 ft-cd

Dibawah ini perbandingan Intensitas cahaya beberapa tempat:
A.      Siang hari / Matahari : 32.000 – 100.000 Lux
B.       Studio TV / Lampu    : 1000 - 1500 Lux
C.      Penerangan Kantor   : 400 Lux
D.      Cahaya Bulan : 1 Lux  

Terdapat 3 golongan sistim penerangan berdasarkan fungsinya , yaitu :
a.       Penerangan rumah tangga dan kantor
b.       Penerangan Pentas
c.       Penerangan Studio

Dari sistim pencahayaanya, dapat diuraikan sbb :
a.           Key Light, pencahayaan yang datang dari arah atas kanan atau kiri, dengan kemiringan 5 – 30 derajat.
b.           Feel Light, pencahayaan yang datang dari arah depan samping kanan/kiri.
c.           Back Light,  pencahayaan yang datangnya dariarah belakang.
d.           Base Light, pencahaayaan yang arah datangnya dari arah depan tegak lurus obyek (frontal)
e.           Top Light, pencahayaan yang datangnya dari arah atas.
f.            Set Light, pencahayaan yang diarahkan ke dekorasi
g.           Backgroud Light, pencahayaan yang diarahkan ke latar belakang (background)
h.           Follow Light, pencahayaan mengikuti gerakan obyek.




C.   KOMPUTER MULTIMEDIA
Komputer Multimedia merupakan peralatan yang saat ini mutlak diperlukan, sebagai bagian proses akhir pada Shooting Video. Dengan mempergunakan komputer berperforma tinggi akan makin cepat dan mudah kita melakukan pemrosesan/pengolahan, baik pemberikan animasi, effek, suara dan teks.
Pada komputer multimedia biasanya sudah tersedia aplikasi program untuk video editing.
Selain dapat mengedit (menyulih) video, komputer tersebut dapat mengedit suara serta memainkan kembali hasil pengolahan.
Persyaratan minimal sebuah Komputer multimedia adalah :
a.             Sistim Operasi Windows 2000/XP
b.             Processor Intel Pentium III atau AMD 300 MHz
c.             RAM 256 Mb
d.             VGA 32 MB
e.             Ruang kosong pada HardDisc 650 MB
f.              Monitor Resolosi 1024 X 768
g.             CD RW 16 X
h.             Speaker Aktif
Selain aplikasi program yang sudah ada pada Windows, kita juga dapat menambah aplikasi program yang lain untuk menambah dan menampilkan hasil pengolahan menjadi lebih baik dan menarik.
Ketekunan, kerapian, kecermatan dan latihan yang rutin, akan menghasilkan pekerjaan optimal.











BAB III.  DASAR-DASAR SHOOTING VIDEO
 

A.      MENENTUKAN POSISI SUDUT PENGAMBILAN GAMBAR
Sudut pengambilan gambar atau camera angle adalah sudut penempatan kamera mengambil gambar suatu obyek, pemandangan atau adegan. Dengan sudut tertentu kita bisa mengahsilkan suatu shot yang menarik, dengan perspektif yang unik dan menciptakan kesan tertentu pada gambar yang disajikan.

Ada beberapa posisi sudut penganmbilan gambar, antara lain :
1.       Normal Angle
Pada posisi normal angle,kemera ditempatkan kira-kira setinggi mata subyek. Tentu saja normal angle sangat tergantung pada tingi subyek yang dishooting. Bila kita merekam kelompok anak-anak kecil yang sedang bermain, normal angle untuk orang dewasa tentu saja terlalu tinggi, maka kamera harus diturunkan setinggi mata anak. Pada program wawancara, bilamana semua pemain pada posisi duduk di kursi, kita bisa pasang level untuk menaikkan setting/kursi, dengan demikian juru kamera bisa mengambil gambar/ menshoot adegan tanpa harus membungkukkan badan selama produksi berlangsung.
2.       Hight Camera Angle
Posisi kamera lebih tinggi di atas mata, sehingga kamera harus menunduk untuk mengambil subyeknya. Hight Camera Angle sangat berguna untuk mempertunjukkan keseluruhan set beserta obyek0obyeknya.
Dengan posisi high camera angle ini dapat menciptakan kesan obyek nampak kecil, rendah, hina, perasaan kesepian, kurang gairah, kehilangan dominasi.
3.       Low Camera Angle
Posisi kamera di baawah ketinggian mata, sehingga kamera harus mendongak untuk merekam agambar subyek. Posisi ini memberikan kesan cenderung menambah ukuran tinggi obyek, memberikan kesan kuat, dominan dan dinamis.
4.       Bird Eye View
Kamera mengambil subyeknya dari atas.
5.       Subjective Camera Angle
Kamera diletakkan di tempat seorang karakter (tokok) yang tidak nampak dalam layer dan mempertunjukkan pada penonton suatu pandangan dari sudut pandang karakter tersebut.
6.       Obyective Camera Angle
Kamera merekam peristiwa atau adegan seperti apa adanya.

B.       MENENTUKAN BIDANG PANDANG PADA OBYEK.
Bidang pandangan atau framing adalah suatu langkah pengambilan gambar yang harus menentukan luas bidang pandangan untuk suatu obyek utama dan obyek lainnya dalam hubungannya dengan latar belakang.
Macam bidang pandangan atau framing adalah :

1.          ELS ( Extreme Long Shot)
Shot sangat jauh, menyajikan bidang pandangan yang sangat luas, kamera mengambil keseluruhan pandangan. Obyek utama dan obyek lainnya nampak sangat kecil dalam hubungannya dengan latar belakang.
 








Gambar 14a
2.          LS (Long Shot)
 








Gambar 14b

3.          Medium Long Shot
Shot yang menyajikan bidang pandangan yang lebih dekat dari pada long shot, obyekmanusia biasanya ditampilkan dari atas lutut sampai di atas kepala.
 




Gambar 14c


4.          Medium Shot
Di sisni obyek menjadi lebih besar dan ampakt, obyek manusia ditampakkan dari atas pingang sampai di atas kepala.  Latar belakang masih ampak sebading dengan obyek utama.
 


Gambar 14d.




5.          Medium Close Up
Shot amat dekat, obyek diperlihatkan dari bagian dada sampai atas kepala. MCU ini yang paling sering dipergunakan dalam televise.
 



Gambar  14e.





6.          Close Up
Shot dekat, obyek menjadi titik perhatian utama di dalam shot ini, latar belakng nampak sedikit sekali. Untuk obyek manusia biasanya ditampilkan wajah dari bahu sampai di atas kepala.

 


Gambar 14f.




7.          Big Close Up
Shot yang menampilkan bagian tertentu dari tubuh manusia. Obyek mengisi seluruh ayer dan jelas sekali detilnya
 



Gambar 14g.




8.          Extreem Close Up
Shot yang menampilkan bagian tertentu dari tubuh manusia. Obyek mengisi seluruh ayer dan jelas sekali detilnya.
 



Gambar 14g.



C.       MELAKUKAN GERAKAN KAMERA DALAM PENGAMBILAN GAMBAR
Dalam suatu produksi di bidang audio visual, hampir tidak pernah ada merupakan hasil  produksi seorang diri. Audio visual merupakan karya bersama atau banyak orang. Maka dari itu untuk memperlancar proses produksi, perlu adanya penyamaan istilah dalam mengerakan kamera, sehingga antara juru kamera dan sutradara ada kesamaan istilah.
Istilah-istilah gerakan kamera adalah:
a.   Pan, Panning
Pan adalah gerakan kamera secara horizontal (mendatar) dari kiri ke kanan atau sebaliknya.
Pan right (kamera bergerak memutar ke kanan)
Pan left (kamera bergerak memutar ke kiri)
Gerakan pan biasanya dilakukan untuk mengikuti subyek ( orang yang sedang berjalan), mempertunjukkan suatu pandangan yang lebih luas secara menyeluruh.
Jangan melakukan panning tanpa maksud tertentu. Seblum melakukan panning hendaknya terlebih dahulu menentukan titik awal dan titik akhir dari shot (adegan) yang akan direkam. Apabila kita merekan adegan gerak seseorang yang sedang berjalan, berilah ruang kosong yang lebih longgar di depannya. Ruang kosong ini dinamakan leading space.
b.   Tilt, Tilting
Tilting adalah gerakan kamera secara vertical,mendongak dari bawah ke atas atau sebaliknya.
Tilt up      : mendongak ke atas
Tilt down  : menunduk ke bawah
Gerakan tilt dilakukan untuk  mengikuti gerakan obyek, untuk menciptakan efek dramatis, mempertajam situasi.
Gerakan tilt ini sebaiknya ditentukan terlebih dahulu titik awal dan titik akhir shot.
c.   Dolly, Track
Dolly atau track adalah gerakan di atas tripot atau dolly mendekati atau menjauhi subyek.
Dolly in  : mendekati subyek
Dolly out: menjauhi subyek


d.      Pedestal
Pedestal adalah gerakan kamera di atas pedestal yang bisa dinaik turunkan.
Sekarang ini banyak digunakan Porta-Jip Traveller.
Pedestal up     : kamera dinaikan
Pedestal down : kamera diturunkan
Degan menggunakan teknik pedestal up/down kita bisa menghasilkan perubahan perspektif visual dari adegan.
e.          Crab
Gerakan kamera secara lateral atau menyamping, berjalan sejajar dengan subyek yang sedang berjalan.
Crab left (bergerak ke kiri)
Crab right ( bergerak ke kanan)
f.     Crane
Crane adalah gerakan kamera di atas katrol  naik turun.
g.       Arc
Arc adalah gerakan kamera memutar mengitari obyek dari kiri ke kanan atau sebaliknya.
h.   Zoom
Zooming adalah gerakan lensa zoom mendekati atau menjauhi obyek secara optic, dengan mengubah panjang focal lensa dari sudut pandang sempit ke sudut pandang lebar atau sebaliknya.
Zoom in   : mendekatkan obyek dari long shot ke close up
Zoom out : menjauhkan obyek dari close up ke long shot











BAB  IV.
MENGOPERASIKAN PERALATAN SHOOTING VIDEO
 

A.      TIP SHOOTING VIDEO
Seperti halnya fotografi, videografi juga membutuhkan sedikit ketrampilan agar menghasilkan gambar yang baik. Jadi shooting dalam videografi tidak sekedar menekan tombol record dan tercipta sebuah video. Untuk menghasilkan video yang baik diperlukan teknik dan trik. Apakah itu? Mari kita lihat lebih lanjut.

1. Mengenali Peralatan
Seorang nelayan yang baik mengetahui dengan benar bagaimana cara menggunakan jalanya untuk menangkap ikan, dan seorang kameramen yang baik mengetahui dengan baik kameranya agar bisa menggunakannya dengan sebaik-baiknya. Maka anda bisa pelajari bagian kecepatan shutter atau shutter speed, kemudian coba untuk mengambil gambar didalam ruangan dan diluar ruangan, coba pelajari menu-menu yang ada dalam kamera anda. Sebagai langkah awal anda bisa membaca buku manualnya sebanyak 2 kali agar anda lebih mudah untuk memahaminya.

2. Persiapan
Ketika suatu saat anda akan bepergian dengan membawa serta kamera video anda, maka yang perlu anda persiapkan adalah sebagai berikut :
a.  setidaknya 1 baterai cadangan yang terisi penuh
b.      sekurang-kurangnya 2 kaset video untuk merekam
c.      pembersih lensa
d.      Sebuah tripod, walaupun mungkin nanti anda tidak membutuhkannya
e.      charger baterai
f.       kabel power
g.      Pelindung kabel, bisa lakban atau sejenisnya untuk melindungi kabel anda dari injakan manusia atau barang
h.      Lampu oncam, filter lensa, mikrofon, dan asesoris lain yang anda miliki



3. Gunakan Tripod
Pada kebanyakan video buatan sendiri akan terlihat goyang gambarnya, dan itu sangat tidak enak untuk dilihat. Dan untuk mengatasi itu, maka anda membutuhkan sebuah tripod yang akan menyangga kamera anda tetap tidak bergoyang. Dan dengan itu pula anda dapat melakukan panning maupun zoom dengan lebih halus.
Dan jika anda tidak memiliki tripod, maka usahakan agar anda berada pada dinding. Sehingga anda dapat menyandarkan bagian punggung anda pada dinding untuk mengurangi goncangan kamera.

4. Tingkatkan Pencahayaan
Untuk mendapatkan gambar yang baik, seorang kameramen yang baik akan selalu mengutamakan cahaya, cahaya, dan cahaya. Karena kebanyakan kamera video didesain dengan pencahayaan yang masih kurang. Sehingga kita perlu untuk memiliki sistem pencahayaan sendiri untuk membantu kamera yang sudah kita punya. Seperti Oncam dan lainnya. Jika kondisi pencahayaan kurang, hindari penggunaan autofocus. Untuk menghasilkan video yang baik usahakan pengambilan gambar pada pagi hari atau sore hari.

5. Audio yang baik
Kalau pencahayaan adalah unsur terpenting dalam video shooting, maka audio adalah selanjutnya. Dan penting untuk diketahui bahwa suatu hal yang sulit untuk menghasilkan audio yang baik dalam proses shooting video. Mikrofon yang sudah dibandel dengan kamera merupakan mikrofon dengan kualitas paling dasar, sehingga tidak akan dapat menghasilkan kualitas suara yang baik. Sehingga anda mungkin perlu untuk menggunakan perangkat audio tambahan yang lebih baik.

6. Posisikan Pengambilan gambar anda dengan baik
Seorang fotografer yang baik, maka dia akan mengambil gambar dalam beberapa posisi yang berbeda. Demikian pun anda sebagai seorang kameramen juga harus melakukan hal yang sama dengan mengambil gambar dari beberapa sudut yang berbeda untuk menghasilkan gambar yang lebih bervariasi. Dan jangan pernah gunakan efek-efek video yang ada pada kamera anda sewaktu mengambil gambar. Gunakan efek pada saat proses editing video.
7. jangan Pernah Gunakan Digital ZOOM
Sejauh apapun jarak anda dengan obyek yang akan anda ambil gambarnya, jangan pernah untuk menggunakan digital ZOOM. Karena hasilnya pasti video anda akan pecah, bahkan sebelum diedit. Penggunaan digital ZOOM adalah kesalahan yang sangat besar dalam dunia video shooting.

8. B-Roll Shoot
B-Roll shoot adalah anda mengambil gambar seolah-olah anda memiliki pedoman alur seperti dalam story board. Sehingga gambar yang anda hasilkan akan lebih bervariatif dan terstruktur sesuai dengan urutan yang benar. Sehingga hasil mixing akhir dari video anda akan terlihat seperti sebuah cerita, bukan sekedar gambar bergerak saja.

B.      DASAR MENGOPERASIKAN KAMERA VIDEO

Ada enam control dasar pada kamera:
1. Exposure:
* Aperture
* Shutter Speed
* (ND Filter)
* (Gain)
2. Filter Colour
3. White Balance
4. Zoom
5. Focus
6. Audio Levels

1.    Exposure
Eksposure secara sederhana dapat saya artikan sebagai pencahayaan kamera. Untuk mendapatkan gambar yang normal, tidak gelap (under exposure) dan tidak sangat terang (over exposure) harus diperhatikan:



a.    Aperture (diafragma)
Di kamera televisi disebut juga Iris, yaitu sejumlah lembaran metal tipis yang disusun sedemikian rupa sehingga bisa dibuka dan ditutup untuk mengatur banyaknya sinar yang masuk ke lensa kamera. Iris seperti pupil mata kita yang bisa membesar dan mengecil sesuai cahaya yang masuk. Bila Iris dibuka selebar mungkin, lensa mengirim sinar maksimum de dalam kamera, sebaliknya kalau bukaan iris dikurangi lubang diafragma akan menyempit, sehingga sinar yang masuk ke kamera jadi sedikit. Bukaan diafragma diukur dalam satuan f-stop: f/1.4 – f/22. lebih kecil nomor f-stop = bukaan diafragma besar, lebih besar nomor f-stop = bukaan diafragma kecil. Pengaturan iris secara manual dapat dilakukan dengan memutar ring iris di lensa kamera.

b.   Shutter Speed
Biasanya shutter speed standar di kamera televisi 1/50. kecuali anda ingin menggunakan efek shutter atau untuk mensinkronkan dengan objek, baru Shutter Speed di posisi ON untuk selanjutnya bisa kita pilih sesuai tujuan kita.

c.   ND Filter
Filter ND (Neutral Density) berfungsi untuk mengurangi intensitas sinar yang terlalu kuat tanpa mempengaruhi kualitas warna cahaya. Filter ini digunakan bila kondisi cahaya terlalu keras, seperti tengah hari yang terik.

d.  Gain
Kebalikan dari ND filter, Gain berfungsi apabila pengambilan gambar dalam keadaan kurang cahaya, yang apabila dengan keadaan normal dengan bukaan f-stop maksimal (f/1.4) masih under exposure. Dengan Gain kita bisa mengangkat exposure secara digital, konsekuensinya gambar menjadi agak coral (pecah).

2.    Filter Colour
Berfungsi untuk mengubah atau mencocokkan cahaya yang masuk ke dalam kamera. Umumnya kamera video memiliki dua buah filter koreksi warna. Untuk shoting di dalam ruangan dengan cahaya lampu tungsten (kemerahan) kita pasang filter 3200ºK dan untuk shoting dengan penerangan cahaya matahari kita gunakan filter 5600ºK.
Cahaya matahari banyak mengandung warna biru. Kalau kita memasang filter no.2 (5600ºK) untuk matahari, sebenarnya kita memasang filter berwarna oranye untuk mengimbangi warna biru pada matahari. Cahaya lampu bohlam lebih mengandung warna merah, maka kita pasang filter no.1 (3200ºK) yang berwarna kebiru-biruan.
Sumber cahaya yang lebih tinggi intensitas sinarnya mengandung warna biru, sumber cahaya yang intensitas sinarnya rendah lebih mengandung warna merah. Perbedaan warna cahaya ini tergantung pada suhu dan diukur dengan derajad Kelvin.

3.    White Balance
Intensitas cahaya berbeda-beda pada saat yang berbeda dan tempat berbeda dalam sehari. Cahaya matahari di luar (daylight) mempunyai suhu kurang lebih 5600ºK, cahaya bohlam di dalam ruangan mempunyai suhu kurang lebih 3200ºK, cahaya lampu TL mempunyai suhu antara 5000ºK-6000ºK. karena intensitas cahaya sangat berbeda maka filter koreksi warna tidak bisa menghasilkan warna putih yang tepat. Maka dari itu kamera video juga dilengkapi dengan tombol untuk menyetel white balance. Cara termudah untuk white balance adalah dengan mengarahkan kamera terhadap benda putih apa saja yang berada dalam kondisi cahaya yang sama dengan cahaya yang kita pergunakan untuk merekam adegan.

Cara menyetel white balance:
* Pertama cocokkan filter koreksi warna dengan kondisi cahaya yang kita pakai  
   shoting.
* Arahkan kamera terhadap benda putih apa saja
* Kamera di zoom sampai yang terlihat di viewfinder hanya warna putih
* Tekan tombol AWB (Auto White Balance)
* Kamera siap untuk merekam.

Catatan: kamera harus di white balance lagi apabila keadaan cahaya berubah.

4.       Zoom
Lihat Bab II, C halaman 17.


5.         Fokus
Fokus adalah pengaturan lensa yang tepat untuk jarak tertentu. Gambar dikatakan fokus apabila proyeksi gambar yang dihasilkan oleh lensa jatuh di permukaan tabung atau CCD jelas dan tajam. Sehingga nampak juga di viewfinder dan monitor.

       Depth of field atau bidang kedalaman adalah bidang dimana objek-objek di depan dan di belakang objek utama tampak dalam fokus.
Secara teknis, shot dengan bidang kedalaman yang luas memudahkan cameraman mengikuti gerakan objek. Bidang kedalaman yang sempit mengharuskan kita untuk terus menerus follow focus apabila kamera atau objek bergerak.
Secara estetis depth of field sangat berperan dalam menciptakan perspektif visual pada keseluruhan adegan (shot).

Ada 3 hal yang menentukan depth of field :
1. Panjang Fokal Lensa
Semakin panjang fokal lensa = bidang kedalaman semakin sempit atau kata lainnya fokus semakin tipis.
2. f-stop/iris
Lebih besar bukaan iris (lebih kecil f-stop) = bidang kedalaman semakin sempit / fokus semakin tipis. Misal f/16 bidang kedalamannya lebih lebar dari f/2.0
3. Jarak kamera dengan objek
Semakin jauh jarak kamera dengan objek = semakin luas bidang kedalaman
Semakin dekat jarak kemera dengan objek = semakin sempit bidang kedalaman.

6.   Audio Levels
Jangan abaikan audio level pada kamera karena selain kualitas gambar, kualitas audio juga tidak kalah pentingnya. Ingat Televisi adalah gabungan antara gambar dan suara. Ada gambar tanpa audio yang bagus akan sangat mengganggu pemirsa bahkan informasi yang akan disampaikan tidak sampai kepada penonton.
Atur audio level jangan sampai under ataupun over (peak).


Mengoperasikan kamera adalah seni, jadi dibutuhkan taste dari setiap camerama
C.      MERENCANAKAN MEREKAM GAMBAR
Merekam Video Dengan Sempurna dan Layak Ditonton
Apa yang bisa kita lakukan dengan sebuah kamera video dalam genggaman ? Umumnya, hanya ada 2 hal mengapa kita membutuhkan dan menggunakan kamera video. Pertama, mengabadikan sesuatu. Dan yang kedua, menciptakan sesuatu. Lalu, apa yang bisa diabadikan dan apa yang bisa diciptakan ? Peluang dan kesempatan untuk ini hampir-hampir tanpa batas. Yang membatasi hanyalah kebutuhan, kreatifitas dan kesenggangan.

Dengan kamera video, kita bisa merekam dan mengabadikan beragam peristiwa dan adegan dalam kehidupan sehari-hari yang terjadi dan berlangsung di sekitar kita. Tidak harus peristiwa yang sangat penting atau menarik. Mengabadikan berarti menyimpan sesuatu pada saat ini, untuk dipergunakan atau dinikmati pada suatu saat nanti. Entah esok hari, lusa, atau puluhan tahun lagi. Peristiwa dan adegan biasa-biasa saja yang terjadi pada hari ini, mungkin akan menjadi sangat penting dan menarik pada suatu saat nanti.

Dengan kamera video, kita juga bisa menciptakan beragam karya videografi untuk mengekspresikan kreatifitas, perasaan dan beragam gagasan, serta menciptakan beragam media komunikasi yang akan membantu beragam tujuan kita pada berinteraksi dengan orang lain. Dari sebuah karya dan program videografi yang kreatif dan komunikatif, kita bisa bercerita, berbagi informasi, menghibur, menularkan pengetahuan, bahkan mempengaruhi orang lain.

Masalahnya adalah bagaimana menciptakan karya dan program videografi – atau minimal rekaman video – yang sempurna dan layak ditonton ? Apapun jenis kamera yang Anda pergunakan, langkah dan tahapan-tahapan berikut ini akan membantu menyempurnakan dan memperbaiki hasil rekaman video Anda, sekaligus meningkatkan pemahaman serta ketrampilan dalam menggunakan teknologi dan media videografi secara kreatif dan komunikatif dan bercitarasa profesional.

Level 1 : Kenali dan Pahami Kamera Video Anda.
Tentu Anda tidak akan mampu menciptakan rekaman apapun, jika tidak mengenal dan memahami cara kerja piranti yang Anda gunakan. Cara menguasai pengoperasian kamera bisa dikatakan sangat mudah. Setiap kamera video di masa kini sudah diciptakan sedemikian rupa otomatisnya, hingga seorang anak TK-pun bisa segera memahami dan melakukannya dalam hitungan menit.
Perlu dicatat, meski kamera setiap jenis kamera dilengkapi dengan berbagai fasilitas, namun tidak semua fasilitas yang ada harus digunakan. Letak tombol dan menu untuk setiap jenis kamera mungkin berbeda, tetapi pada umumnya fungsi sama.

Level 2 : Rekaman Video yang Layak Dilihat dan Disimpan
Rekaman video dikatakan layak untuk dilihat dan disimpan jika memenuhi 4 syarat : cukup pencahayaan, fokus, stabil dan cukup durasi. Syarat-syarat ini hanya bisa diabaikan jika rekaman video tersebut memiliki nilai tertentu (penting dan/atau menarik) atau mengabadikan peristiwa atau adegan yang istimewa dalam kondisi darurat. Jika tidak terlalu istimewa, maka rekaman video yang tidak memenuhi syarat tersebut bisa dikatakan tidak layak dilihat atau disimpan.

Level 3 : Rekaman Video yang Layak Dinikmati
Sebagaimana fotografi, dunia videografi juga memiliki kaidah-kaidah baku yang berkaitan dengan komposisi dan penataan subyek dalam bingkai gambar (frame). Kaidah-kaidah ini menjadi semacam gramatika tersendiri dalam komunikasi antara videografer dengan penonton karya-karyanya. Dalam proses produksi, kaidah-kaidah ini juga menjadi acuan kesepahaman antara seorang produser, sutradara, penulis naskah, kameraman, dll. Sebuah rekaman video dikatakan layak untuk dinikmati jika disajikan dengan mengikuti kaidah-kaidah baku dalam dunia videografi, yang secara umum tidak berbeda jauh dengan yang berlaku dalam dunia fotografi.
Balance, Framing, Compositions : Horizontal Lines, Vertical Lines, Thirds Ratio, Diagonal Lines, Triangle, Perspective, Looking Room, Walking Room, Head Room, Golden Mean, Background, Foreground.
Frame Cutting Points : Extreme Close Up, Big Close Up, Close Up, Medium Close Up, Medium Shot, Medium Long Song, Long Shot, Extreme Long Shot.
Other Types Of Shot : 2 Shot, 3 Shot, Group Shot, Over Shoulder Shot, Establishing Shot.
Camera Movement : Panning ( Left, Right, Up, Down ), Tracking ( In, Out, Follow, Revolve ), Truck ( Left, Right ), Zooming ( In, Out )
Camera Angle # 1 : Normal Angle, Low Angle, High Angle
Camera Angle # 2 : Objective Camera, Subjective Camera

Shot By Camera Positions : Face Shot, ¾ Shot, Profile Shot, Over Shoulder Shot
Shooting Rules : Jump Cut, Crossing The Line, Continuity

Level 4 : Rekaman Video yang Selesai dan Layak Tonton
Bertumpuk-tumpuk kaset video, berjam-jam durasi rekaman video, biasanya hanya tersimpan dalam almari dan lambat namun pasti berubah menjadi sampah. Rekaman video mentah (stock shot atau master shot) seperti ini tidak menarik untuk dinikmati, karena siapapun cenderung malas untuk menikmatinya (termasuk kameramannya sendiri).

Rekaman video yang layak untuk ditonton adalah rekaman video yang selesai dan tersaji dalam wujud karya videografi yang siap dipertontonkan. Ditonton, adalah hakekat penciptakan sebuah karya atau program videografi. Tidak berbeda dengan seorang pelukis yang telah membingkai lukisannya dan memajang di dinding atau panel galeri. Tak beda juga dengan seseorang yang menyanyi di depan orang lain atau di panggung, bukan lagi di kamar mandi.

Sebagai sebuah pertunjukan, karya videografi yang siap dipertontonkan disajikan dengan kaidah logis sebuah proses penyajian. Ada awalan atau pembuka, dilanjutkan dengan isi atau materi inti dan diakhiri dengan sajian penutup. Rangkaian ini secara keseluruhan memberi informasi kepada penonton tentang apa yang sedang ditontonnya.

Dalam format sajian yang paling sederhana, sebuah judul di bagian depan, rangkaian gambar yang tersusun pada batang tubuhnya dan credit title yang muncul pada bagian akhir, sudah bisa memberikan status selesai dan siap tonton pada sebuah rekaman video. Selebihnya adalah masalah kreatifitas sesuai dengan kebutuhan dan tujuan produksi karya videografi tersebut.

Sebuah karya videografi yang selesai dan siap ditonton umumnya melewati tahap-tahap berikut ini:
Pra Produksi : Proses perencanaan dan persiapan produksi sesuai dengan kebutuhan, tujuan dan khalayak sasaran yang dituju. Meliputi persiapan fasilitas dan teknik produksi, mekanisme operasional dan desain kreatif ( riset, penulisan outline, skenario, storyboard, dsb.).
Produksi : Proses pengambilan gambar di lapangan (shooting).
Pasca Produksi : Proses penyuntingan di ruang editing, memadukan hasil rekaman video dengan berbagai elemen audio visual lainnya.
Presentasi : Menyajikan hasil penyuntingan (editing) dalam format siap tonton (kaset, VCD, DVD, dsb.)

D.      MEREKAM GAMBAR
Ada beberapa tips untuk melakukan shooting video (merekam gambar), antara lain :
1.   Jika memungkinkan, selalu pergunakanlah manual focus.
2.    Atur white balance pada setiap perpindahan lokasi atau pergantian sumber
      pencahayaan.
3.   Jika melakukan pengambilan gambar di luar ruangan (outdoor shooting), posisikan  
      matahari di belakang anda. Begitu juga sumber pencahayaan lainnya.
4.   Rencanakan ambilan gambar (shot) Anda. Sebaiknya, jangan mulai merekam gambar sebelum Anda siap merekam gambar dengan sempurna. Dan yang lebih penting subyek rekaman Anda siap untuk direkam (komposisi, focus, pecahayaan, dsb. ).
5.    Gunakan tripod atau alat bantu lainnya.
6.   Dalam kondisi rekaman tanpa alat bantu (handhelds), pegang dan kendalikan kamera video Anda sedemikian rupa agar hasil rekaman tetap stabil (andaikan sebagai secangkir kopi panas).
7. Gunakan zooming hanya untuk menata komposisi ambilan gambar. Hindari penggunaannya pada saat merekam (rolling), kecuali jika ada maksud untuk tujuan tertentu atau memang disengaja karena hasil rekaman akan diproses lebih lanjut (editing).
8.  Shoot to edit. Pastikan untuk memproses lebih lanjut setiap hasil rekaman Anda (editing). Untuk itu, rekaman video harus diciptakan dan dipersiapkan sedemikian rupa agar siap untuk diproses lebih lanjut (variasi dan kelengkapan gambar, durasi setiap shot, menghindari fasilitas kamera yang tidak diperlukan, dsb.)Jaga durasi setiap shot. Jangan terlalu panjang dan monoton (tanpa variasi), namun juga jangan terlalu pendek. Minimal antara 8 hingga 10 detik. Tidak ada batas maksimal karena tergantung action yang direkam. Namun sebaik sudah mulai merekam 3 hingga 5 detik sebelum action berlangsung. Berikan durasi yang sama setelah action berlangsung.

9.  Jaga setiap shot dalam kondisi steady tanpa pergerakan kamera, setidaknya selama 10 detik. Jika suatu shot akan berisi pergerakan kamera, berikan awalan dan akhiran dalam kondisi steady dengan durasi setidaknya 3 hingga 5 detik.
      Pada saat merekam, selalu antisipasi pergerakan subyek atau apa yang akan dilakukannya.




























BAB  V.  MEMBUAT FILM/MOVIE
 

A.        MENGOPERASIKAN KOMPUTER MULTIMEDIA
1.      Persiapan
Guna membuat film/movie dari hasil shooting, kita harus memiliki sstu unit computer Multimedia dengan persyaratan minimal berikut :
a.      Sistim Operasi
Sistim Operasi yang dipergunakan secara umum adalah Windows 2000, XP
Didalam Windows 2000 maupun Windows XP sudah terdapat beberapa software aplikasi antara lain, Windows Media Player, Windows Picture Viewer maupun Windows Movie Marker.
b.      Prossesor
Prossesor minimal yang dipersyaratkan adalah Intel Pentium III atau yang sekelas maupun type yang lebih tinggi.
c.       Memory
Mempunyai memory berkapasitas 256 Mb atau lebih.
d.      USB Port
USB Port adalah antarmuka yang digunakan untuk banyak perangkat, Flashdisk, Camera, Printer dll.
e.      Drive Optic
Drive Optic harus mampu membaca maupun menulis.
Alat ini biasa dinamakan CD-RW. Minimal mempunyai kecepatan 16X atau lebih.
f.        Monitor
Dipergunakan untuk menampilkan semua kegiatan, agar tampak.
Persyaratan minmal mempunyai resolosi 1024 X 786 atau lebih.
g.      HardDisc.
Tempat menyimpan berbagai data/file.
Persyaratan minimal harus mempunyai ruang kosong 650 MB atau lebih
h.      Speaker Aktif
Speaker adalah seperangkat sound system yang sudah menjadi satu kesatuan dimana speaker dan penguat audio (amplifier) sudah menjadi satu dalam sebuah box/kotak.
Persyaratan minimal adalah stereo amplifier dengan daya 50 watt PMPO.
2.      Mengenal Aplikasi Program Video Editing
Banyak Program Aplikasi Video Editing yang ada pada saat ini, antara lain :
Windows Movie Marker, Power Director, Macromedia Director, Adobe Premiere, Ulead Video Studio, Video Edit Pro, Sony Vegas, dll.

B.         MELAKUKAN EDITING VIDEO
1.      Membuka Aplikasi Program Movie Marker
Langkah paling ringan dan mudah untuk membuat/menedit video adalah dengan mempergunakan Windows Movie Marker. Program aplikasi ini sudah tersedia pada Windows 2000 maupun XP secara default.
Untuk membuka program tersebut, lakukan langkah berikut :
Klik Start, lalu klik All Program, Sorot dan pilih Windows Movie Marker.
Maka pada layer akan tampak tampilan seperti gambar dibawah.
 











2.      Lingkungan kerja Movie Marker
a.     Judul
Judul merupakan identitas dari file yang sedang dikerjakan.
b.     Preview Monitor
Preview merupakan fasilitas untuk melihat klip yang sedang dipilih atau untuk melihat preview dari video pada workspace.



c.      Collection
Jendela untuk menampung semua klip yang berupa film, gambar, video maupun suara. Jadi merupakan penyimpanan perintah (library) sebagai bahan baku yang akan diolah.
d.     Tool Bar
Tool Bar merupan pintasan/shortcut dari menu utama.
e.     Workspace
Merupakan daerah pengerjaan. Dapat ditampilkan dengan Tampilan Story board maupun Time Line.
Dalam Workspace terdapat 3 track fasilitas yaitu, track untk video, track untuk audio, dan track untuk teks.
3.      Mengimpor File gambar/video/musik kedalam collection
a.      Mengimpor gambar (image/picture)
Pada Movie Task, Klik Import Pictures, kemudian pilih/cari file gambar (image/picture) yang akan kita ambil, kemudian klik tombol Import.
 











b.       Mengimpor video
Pada Movie Task, Klik Import Video, kemudian pilih/cari file gambar (image/picture) yang akan kita ambil, kemudian klik tombol Import.
c.       Mengimpor file suara
Pada Movie Task, Klik Import Audio or music, kemudian pilih/cari file gambar (image/picture) yang akan kita ambil, kemudian klik tombol Import.

4.      Men-drag file gambar/video/musik  Workspace
 















Penempatan file gambar (image/picture) maupun Video, ditempatkan (di-drag) pada video track. Sedang penempatan file audio or musik pada track Audio/music.

5.      Memasukan Teks
 





























2.  Klik, done
 
1.   Ketik Teks
 
 















Gambar  21.
6.      Menyimpan File     
Klik pada Menu Bar, File, kemudian klik save as, tulis nama file, klik oke.

C.         MEMBUAT FILM/MOVIE DALAM BENTUK VCD
1.      Membuat Video
Membuat video pada dasarnya adalah kegiatan menyimpan klip-klip di Workspace menjadi sebuah file video yang terorganisir, yang sudah bias di putar di aplikasi-aplikasi pemutar video pada PC. Misalnya : Windows Media Plyayer, Power DVD Player, Cowon Jet Player, Media Pro Player, dll.
 











2.      Membuat Video dalam bentuk Keping VCD
 












Selamat Mencoba dan Pasti Bisa !!!